Membaca orang dari gerakan mata

Kiri Atas = Memori Visual
Saat seseorang mengingat sesuatu yang berhubungan dengan memori/ingatan visual, seperti gambar, bentuk, warna, dsb. Orang cenderung akan menggerakan matanya ke KANAN ATAS. Karena di sudut inilah mata kita punya link untuk berhubungan ama memori visual dalam otak.

Contoh :
Saat seseorang inget2 warna baju yang dipake pacarnya malem minggu kemaren, warna seragam baju waktu TK, bentuk pesawat F-16, poster yang ditempel dikamar waktu SMP, ato yang lain.

Tes :
Coba tanyain ke temen, “Apa warna seragam waktu TK?” (Ato yang lain) dan kalo dia butuh waktu –beberapa detik- buat inget2, matannya kebanyakan akan mengarah ke kanan atas. Kecuali dia udah hafal diluar kepala.

Kiri Tengah = Memori Auditori
Mata akan mengarah ke sisi KANAN TENGAH saat mengingat memori auditori, seperti suara. Karena di sudut inilah mata kita punya link untuk berhubungan ama memori Auditori dalam otak

Contoh :
Saat inget2 suara/pesan dari ibu buat belanja ke pasar, inget pengumuman lewat speaker, dsb yang berhubungan dengan pendengaran.

Kanan Bawah = Memori Kinestetik
Saat mengingat memori yang berkaitan dengan rasa, perasaan dan keadaan. Mata akan cenderung bergerak kea rah KANAN BAWAH. Karena mata akan lebih mudah mengingat yang berhubungan dengan memori kinestetik pada arah ini.

Contoh :
Saat mengingat rasa dari makanan, saat mengingat rasa saat dinginnya ujan2nan, rasa saat dipuji sang kekasih, dsb.

Kanan Atas = Imajinasi Visual
KANAN ATAS, mata akan cenderung bergerak kearah ini apabila sedang mengimajinasikan yang berhubungan dengan visual. Karena pada arah ini mata cenderung mengarah ke korteks imajinasi visual.

Contoh :
Berimajinasi bagaimana kalo wajah bapak anda punya kumis kotak & tebel, ato bayangin sapi yang hanya punya 1 kaki, dsb.

Kanan Tengah = Imajinasi Auditori
Saat orang mengimajinasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan Auditori ato pendengaran, mata cenderung akan bergerak kearah korteks yang berhubungan dengan imajinasi auditori, yaitu KANAN TENGAH. Karena di sudut inilah mata kita punya link untuk berhubungan ama Imajinasi Auditori dalam otaknya.

Contoh :
Bayangkan suara kakek2 umur 100 tahun marah2. Bayangkan suara anjing saat kelaparan, dsb.

Kiri Bawah = Imajinasi Kinestetik
Pada korteks ini, mata kan mengarah saat mengimajinasikan sesuatu yang berhubungan dengan rasa, perasaan dan keadaan. Karena pada arah ini mata menuju kearah link yang mempermudah untuk berimajinasi kinestetik. Akan cenderung kearah KIRI BAWAH.

Contoh :
Bagaimana merasakan buah jeruk yang sangat asem. Bayangkan bagaimana rasanya ujan2nan malam hari di musim dingin, dsb.

NB :
Tehnik ini juga berjalan dua arah. Bukan hanya untuk menilai
Kitapun bisa pake untuk sebaliknya. Saat mengingat sesuatu hal yang bersifat memori visual, kita bisa gerakan mata kita ke kanan atas untuk mempermudah mengingat sesuatu yang visual. Dan seterusnya…

Video berryz koubou (youtube)

1.welcom to happinese (disini masih keliatan masih pada kecil2)

2. 21ji Made no Cinderella (ini termasuk kesukaan saya)

3. Piriri to Yukou! (disini terdengar nya kayak musik indonesia)

4. special generation

5. GAG 100kai bun Aishite Kudasai

6. Fighting Pose wa date ja nai!

7. Anata Nashi de wa Ikite Yukenai

8. Koi no Jubaku

9.なんちゅう恋をやってるぅ YOU KNOW

10.BOY FRIEND

sgini dula yah kalo cara download na gampang. pergi ke keepvid.com. trus isi kolom di keepvid ditengah2 dengan alamat youtube seperti contoh

isi di keepvid spert ini: http://youtube.com/watch?v=84Nvcx0T3M8&feature=related

trus enter download dan dibawah ada tulisan

spert ini

flv(download) low quality

Mp4 (download) high quality

dan yang didownload / klik flv low qualty

Masjid Al Alm marunda

Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaranya Si Pitung.

“MENCARI barokah,” begitulah kata Mulyonorahim, salah satu peziarah saat ditanya tujuannya datang ke Masjid Al Alam Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Lelaki asal Kota Pasuruan Jawa Timur itu sudah dua bulan menetap di Masjid Al Alam. Saat ditemui, ia sedang menata ubin lantai di sebelah kanan Masjid. “Saya berniat lillahi ta’ala membantu,” jawabnya.
Senada dengan Mulyono, beberapa peziarah lainnya seperti Fathoni, Madjid dan Ramli juga berniat mencari barokah dengan banyak melakukan ritual ibadah di Masjid Al Alam.
Kedatangan para peziarah yang berasal dari berbagai daerah itu, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh Walisongo. “Masjid ini dibangun Walisongo dengan tempo semalam, saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa,” kata M. Sambo bin Ishak, wakil ketua Masjid Al Alam. “Karena itu, nama asli masjid ini Al Auliya, masjid yang dibangun para wali Allah,” lanjutnya.
Sementara di tempat terpisah, tokoh Betawi, Alwi Shahab, mengatakan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. “Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari,” katanya di Kantor Harian Republika.
Meski berbeda pendapat, baik Sambo dan Alwi Shahab mengatakan hal yang sama bahwa Masjid Al Alam dibangun hanya dalam tempo semalam, meski pijakan alasan keduanya berbeda.
Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip musala itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khusunya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa Masjid Al Alam juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.

Seratus tahun kemudian (1628-1629), lanjut Alwi Shahab, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.
Penuturan Alwi Shahab tersebut, senada dengan penjelasan Sambo tentang lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Menurutnya, lubang tersebut digunakan sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh. “Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan.”

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini—ukurannya 10×10 m2. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat “kuntet,” seperti kaki bidak catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.
Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid. “Dulunya di sini memang kolam. Buktinya ada sumur di samping masjid,” kata Sambo sambil menunjuk letak kolam yang saat ini sudah tertutup ubin berwarna merah dan sebuah sumur yang sudah ditutup.
Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Di antaranya adalah tembok di ruang utama masjid yang memiliki ketebalan sekira 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. “Itu juga asli, dalamnya terbuat dari batu giok,” lanjutnya.
Selain itu, Sambo juga menunjukkan sebuah tongkat yang terukir melingkar seperti ular. Menurutnya, tongkat tersebut cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum’at untuk khutbah. “Tongkat ini datangnya misterius. Tiba-tiba datang ke sini lewat air,” katanya.
Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jumat Kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighosah.
Dengan keistimewaan Masjid Al Alam, baik nilai-nilai sejarah perlawanan yang heroik dan karomah para pendirinya, dalam perkembangannya juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar Marunda, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai islami maupun rizki. Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam.
Demikianlah keistimewaan masjid Al Alam atau Al Auliyah Marunda. Meski dibangun hanya dalam tempo semalam, tapi manfaatnya terasa beratus tahun.

Referensi: http://www.al-shia.com

Penulis:Hakim290790